Goresan Kata Di Kala Merintih
Dan
Memang Bukan
Pagiku menggelayuti
hari, duduk dipelataran pojok rumah. Tak mempedulikan apa itu nyaman atau tidak
nyaman. Hanya memandangi rintik- rintik air yang silih berganti. Memandang
tempat yang tak kunjung berganti. Mungkin orang tuaku yang tengah hujan-
hujanan didepan sana, terasa menyesal, mengeluh, atau merugi. Mungkin juga
tidak. Entahlah apa yang mereka kini pikirkan.
Tercipta, terlahir, terbesar dititik
yang kupijak. Berapa lama sudah tak pernah melihat pergantian apa yang telah
bertahun- tahun ku lihat. Terasa hampa, apakah mungkin dunia sesempit ini ?.
Semua terasa tak berbeda sedikitpun. Tetapi jika harus berkaitan dengan kedua
insan diluar sana. Harus kuurungkan saja apa yang menjadi permasalahan hidupku.
Sebagai anak yang tak mampu
melakukan apa- apa kepada orang tuanya, hanya dapat menonton- nonton dengan
kegetiran raut wajah. Sebenarnya sangat tak etis. Tapi apakah iya, akan
membantu dengan khayalan- khayalan kaki yang selama ini kubuat. Kaki yang tak
dapat dipandang oleh siapapun, kecuali diriku sendiri. Dengan tak kepercayaan
yang selama ini menggelayuti. Tak percaya, akan kedua kaki ini enyah dari ku,
setelah beberapa tahun yang lalu. Tepat di rumah sakit itu. Mendengarkan
layaknya petir yang menyambar di samping. Sangat dekat, sangat jelas. Walau aku
hanya pura- pura masih tertidur lelap. Walaupun arwah ini telah kembali ke raga
yang telah melekat sebelumnya. Mendengarkan kenyataan tepahit, kakiku
diamputasi.
Aku sungguh sangat menyesal. Berkat dariku,
harta benda lenyap. Satu persatu, disapu oleh pengangkat barang yang sangat
keberatan menjunjung bawaannya. Hanya untuk mengobati, merawat, dan berbagai
terapi. Seharusnya tak usah saja, biarkan kaki ini tak enyahkan dariku, agar
aku tetap percaya, bahwa aku mempunyai kaki yang layak kubanggakan. Walaupun
takkan berfungsi sebagaimana mestinya. Agar semua harta benda, masih ada yang
tersisa ataupun utuh. Agar, orang tua tak menjadi jelata.
Saat mereka telah selesai dengan
pekerjaanya, mengangkat padi garapan yang hampir kunjung basah, terguyur hujan.
Kusapa dengan senyuman terhangat.
“ Sudah selesai akhirnya nduk. “
ucap ibu dengan menyapu keningnya.
“ Bu, terima kasih ya, sudah
dibelikan kursi roda. Sekarang nduk sudah bisa pindah- pindah tempat sendiri. “
“ Iya, syukurlah kalau kamu suka.
Ibu dan bapak merasa ndak sia- sia membelikannya buat kamu. “ kata ibu yang
menggetarkan hati.
Aku
hanya mengakhiri percakapan dengan senyum. Bukan senyum kebahagiaan, tapi
senyum ketidakpastian. Apakah sedemikian bangganya, orang tua menghadiahkan
sesuatu kepada anaknya. Walau itu membutuhkan jerih payah, dengan memeras
keringat yang bercucuran berember- ember.
***
Kokokkan ayam dari tetangga sebelah,
tak kunjung- kunjungnya berhenti. Padahal matahari masih saja belum terlihat
batang hidungnya setitikpun. Padahal juga waktu baru saja satu jam setelah
pergantian hari. Tapi kokokkan itu, tak bisa lagi menidurkanku yang kunjung
terbangun. Hingga mengisi kekosongan waktu dengan shalat tahajud. Berharap
mendapat penerangan dan petunjuk, yang menghapus segala sesuatu yang selalu
saja membuatku bersalah. Sangat merasa bersalah. Sejak beberapa tahun lalu.
Aku hanya dapat berpikir. “Apakah
aku harus pergi meninggalkan rumah ini?. Aku akan dapat melihat luasnya dunia,
mengarungi rintangan- rintangan yang akan menambah ketabahan. Berharap juga
akan mendapat kesempatan yang berujung kesuksesan dimasa yang akan datang.
Berharap agar bapak dan ibu tidak merindukan dan menjadi sakit, akibat apa yang
kuperbuat. Semoga dapat terkabul. Amin. “
Terus- menerus ku memikirkannya,
berbagai dampak juga tak luput ku perbandingkan. Hingga aku memutuskan, pagi
itu juga kupersiapkan semua barang, kutulis secarik surat di lembaran.
“
Untuk bapak dan ibu.
Hari ini, nduk akan mencoba
mengarungi berbagai tempat. Beradu nasib diluar sana. Nduk sudah memikirkannya
secara sangat matang. Nduk hanya percaya, bahwa Tuhan akan selalu ada disamping
nduk. Percaya saja, kalau dengan Tuhan, pasti akan diberikan yang terbaik untuk
nduk. Nduk tidak tahu akan kemana. Yang jelas bapak dan ibu tidak usah
khawatir, dan meragukan nduk. Doakan saja.
Salam
hangat dari nduk.”
Aku putar roda kursi ini. Terus
kuputar. Sampai pada tepi jalan. Merasa terbebas dari kekangan berkat kaki
khayalan. Kaki yang selama ini memenjarakanku dan membuatku tak sama dengan
anak- anak yang lain. Aku percaya, bus ini akan menujukanku pada tempat yang
sempurna bagiku.
***
Kini, ditempat ini, diwaktu ini,
bahagia sungguh sangat kurasakan. Setelah lima bulan yang lalu memutuskan untuk
pergi meninggalkan rumah.
Mungkin
doaku terkabul sudah, doa yang selalu kupanjatkan, hanya berbekal kepercayaan
bahwa “Tuhan selalu ada didekatku”. Mungkin juga karena doa- doa kedua orang
dirumahku sana. Doa yang sangat kuat, yang dipanjatkan oleh orang tua kepada
anaknya.
Entah kenapa, apakah itu sebuah
kebetulan, keberuntungan, ataukah memang bakat yang terpendam. Menyukseskanku
di kota besar yang sama sekali tak pernah kubayangkan semasa kecilku.
Menyukseskan dengan bisnis mandiri, yang kurangkai dengan kawan- kawan serupa,
senasib, dan kurang beruntung. Tetapi bangga, akan kemampuan yang dapat
bersaing dengan yang lainnya, yang lebih sempurna secara fisik. Kamipun juga
lebih sempurna, kesempurnaan yang datang dari hati. Menguatkan, dan tekad yang
sangat kuat untuk dapat menghidupi diri. Membuat mereka- mereka yang pernah
meremehkan itu tahu. Bahwa kami ada, memang benar benar ada disini. Jadi jangan
anggap kami sebagai patung, hanya dapat terpaku tanpa ada pengorbanan. Kami
bisa, bisa melakukan lebih dari yang lakukannya.
Aku akan menunjukkan kepada bapak
dan ibu, kepada tetengga- tetanggaku, kepada semua yang meremehkanku. Bahwa aku
bukanlah orang yang hanya dapat duduk dan hanya duduk saja. Menunggu- nunggu
ada orang yang ingin menolong untuk kesana kemari. Bukanlah juga orang yang tak
dapat bekerja menghasilkan uang. Bukan orang pembawa sial yang merampas habis
harta benda kedua orang tua. Bukan itu semua. Dengan ini juga mungkin akan
cukup. Walau sebenarnya masih kurang.
***
Kini orang tuaku disana, dapat
merasakan hidup yang sesungguhnya. Bukan hidup dengan tiap hari bekerja,
bekerja bukan sekedar biasa, tapi membanting tulang bersama, tegar dangan
setiap cobaan yang silih menimpa. Berkat dari putri tunggalnya. Yang menjadi penderitaan
bagi mereka.
Aku tak ingin menjadi batu yang mengganjal
ketenangan mereka. Kucoba sebisa mungkin untuk melunasi setiap kesalahan-
kesalahan yang pernah ku perbuat. Walaupun memang sangat tidak akan cukup untuk
melunasinya. Walaupun kesalahan itu sama sekali tak ku inginkan. Walaupun
kesalahan itu karena takdir yang telah ditentukan. Tapi tetap saja, kesalahan
dan penyesalan itu tak dapat dihapuskan, apalagi sudah menyangkut kebahagiaan
mereka. Orang tua.
***
END...

Komentar
Posting Komentar