Perjuangan Anak Yang Tak Kenal Kata "Menyerah"
PELANGI
DIBALIK AWAN
TANTRI POV
Pagi ini, aku bangun tiga jam
lebih awal dari terbitnya matahari, sedangkan ayah dan, adikku masih tertidur
lelap dengan mimpinya masing-masing. Setiap pagi udara yang sejuk selalu
menusuk sampai ke tulang-tulang. Merasakan pahitnya hidup, tidur dengan
beralaskan kardus yang ditata sedemikian rupa, atap genteng yang sederhana
hasil dari memungut buangan tetangga tak luput menyertai rumah sempit yang kutinggali
ini. Pelan-pelan ku rentangkan tanganku ke kanan dan ke kiri, kuikat rambut
yang berantakan, lalu kupakai kerudung kumal yang sudah kupakai selama entah
berapa hari itu. Walaupun bau apek itu menyengat hingga hidung, tapi apa daya,
hanya beberapa kerudung masih saja setia menemani hidupku, karena hanya beberapa
kerudung kumal itulah yang kumiliki.
Sejak ibu meninggal dan ayah lumpuh
karena kecelakaan dua tahun yang lalu, hidup ayah, aku dan adikku menjadi tak
menentu. Rumah terjual untuk membiayai pemakaman ibu dan mengobati lumpuh ayah
yang sampai sekarang tak bisa apa-apa. Jangankan untuk berdiri, jongkok pun tak
bisa. Kedua kakinya tetap saja tak bisa digerakkan.
Ayah hanya dapat
bekerja ditempat tidurnya saja. Membuat anyaman keranjang bambu dan sapu lidi.
Walaupun begitu aku tetap bangga pada ayah. Perjuangannya, kegigihannya,
ketidak-putus-asaannya dalam menatap hidup. Walaupun sedang lumpuh tak
menyurutkan niatnya untuk selalu bekerja
mendapatkan seberkas uang asa dalam menghidupi kami bertiga.
Pekerjaan seorang ibu yang setiap
hari dikerjakannya sekarang sudah menjadi tugasku. Apalagi kalau bukan
masak-memasak, mungkin masakanku tak se-enak buatan ibu, tapi setiap hari ayah
dan Santi, adikku, tak pernah mengomentarinya. Walaupun hambar ataupun keasinan
tetap saja dilahap hingga tuntas tak berbekas oleh mereka. Aku tak tahu apakah
mereka ingin meghargaiku yang telah memasakkan makanan untuk mereka ataukah
mereka memang sedang lapar, sehingga tak bisa merasakan cita rasa masakan yang
aku masak.
Tak terasa
sudah, suara Adzan Subuh terdengar oleh gendang telingaku, cepat-cepat aku
mengambil air wudlu, meraih mukenah dan pergi ke mushola yang kebetulan
bersampingan dengan rumah.
“ Assalamu’ alaikum, Pak Haji “ ucapku
“ Wa’ alaikum salam, mbak Tantri. Ayo
...... kita shalat bersama.”
“ Ya, Pak .......“
Akupun ikut shalat
berjamaah bersama keluarga Pak Haji dan beberapa warga lainnya. Rekaat demi
rekaat kujalani, Shalat ba’da shubuh pun tak tertinggal. Aku melanjutkannya dengan
berdo’a kepada Allah SWT. Menjadi suatu kebiasaan bagiku, dalam do’aku terselip kata-kata curhat-ku
pada-Nya. Selama ini aku tak pernah mengatakan isi hatiku kepada orang lain,
bahkan pada ayahku sendiri, aku takut membebani beliau. Pasti juga banyak
masalah yang ada dipikirannya dibandingkan denganku.
Dalam curhatku,
aku mengatakan semua isi hati. Termasuk keadaan perekonomian keluargaku yang
sangat menyuramkan ini, dan juga kesedihan ditinggal oleh seorang ibu. Sebenarnya
aku cenderung merasa iba kepada adikku Santi, diusianya yang masih balita,
sudah tidak merasakan lagi belaian seorang ibu yang begitu lembut, kasih sayang
seorang ibu yang begitu Santi dambakan, bahkan pelukan kasih seorang ibu yang
begitu hangat. Belum puas Santi rasakan. Maka dari itu aku mencoba untuk
menggantikan sosok seorang ibu baginya, walaupun pelukanku tak sehangat pelukan
seorang ibu, tapi setidaknya itu dapat meredam rasa rindunya.
Sesekali dia
menanyakan kebaradaan ibu, tapi aku hanya memeluk dan menatapnya dengan tatapan
rasa kasihan. Bagaimanapun juga, aku tak ingin meneteskan air mata di depan
Santi, karena menurutku itu akan membuat hatinya tambah sedih.
“ Mbak Tantri” panggil Bu Haji dengan menjawil
pundakku.
“ Astaqhfirullah Hal Azim, oh..... Ibu, maaf Bu
saya kaget “
“ Saya yang seharusnya minta maaf,
tapi kenapa Mbak Tantri masih ada disini ? ini sudah jam lima lho, Mbak.”
“ Apa benar bu, saya terlalu asyik
berdoa. “
“ Apa ada masalah Mbak, kalau ada..
cerita sama Ibu. Ibu sudah menganggap kamu sebagai anak sendiri. “
“ Terima kasih, tapi.... saya tidak
apa-apa. Maaf bu saya pamit dulu, persiapan untuk jualan. “
“ Baiklah, “ suaranya pelan.
Mungkin Bu Haji sebenarnya sudah
tahu apa yang sedang aku pikirkan tadi. Sungguh, aku sangat berterima kasih
atas kebaikannya kepada keluarga kami, beliau sering memberi uang kepada Santi,
memberi makanan, buah-buahan dan yang paling berkesan yaitu memberi perhatian
yang lebih kepada keluarga kami.
Langkahku tak terasa sampai didepan rumah,
terlihat ayah sudah bangun, sedangkan Santi sedang mandi. Aku tahu dan sadar
bahwa mereka belum makan, maka segera ku siapkan makanan yang kumasak tadi
pagi. Kamipun melahapnya bagai orang yang kelaparan selama satu minggu. Selepas
makan, Santi menyiapkan daun kelapa yang sudah dijemur dari kemarin, dan
dibuatnya bersama ayah menjadi sapu lidi. Sedangkan aku, menjajakan es lilin
dari salah satu tetangga. Sambil membawa termos es, aku menawarkan dengan
kalimat-kalimat andalan ku untuk bisa
menarik perhatian calon pembeli.
“ Es lilin, es lilin, es lilin
merah..... hijau ...... kuning, putih ..... “
“ Es lilin, es lilin, es lilin
merah..... hijau ...... kuning, putih ..... ” teriakku.
Tanpa rasa malu,
aku terus berjualan. Aneh. Biasanya terdapat sekelompok siswa yang akan
berangkat sekolah untuk membeli es lilin, tapi hari ini tak terlihat batang
hidungnya sekalipun. Tak apalah, masih ada satu tempat lagi yang aku andalkan
untuk menjajakan es lilin, yaitu sekolahan. Ya sekolahan, disana banyak anak sekolah
yang mungkin sedang kehausan setelah bermain-main.
Setibanya di sekolah, aku duduk
diteras ruang guru. Suasana masih sepi. Pantas saja, aku datang terlalu pagi
dari siswanya sendiri. Menunggu dan menunggu sambil mencemaskan apakah
daganganku akan mencair. Tak terasa didepanku sudah banyak siswa yang mengantri
untuk membeli es lilinku, sampai-sampai siswa yang mengantri paling akhir tak
kebagian. Hah... mungkin ini rezeki untukku. Kuhitung satu persatu kepingan
recehan dan lembaran rupiah yang kukumpulkan, tak terpikir olehku untuk
menyimpan seratus atau duaratus rupiahpun, aku ingin menjadi penjual yang jujur
agar mendapat berkah. Lalu ku ayunkan langkahku menuju rumah tetanggaku, yang
mempunyai usaha es lilin ini, jauh memang, tapi tak kurasakan rasa pegal
dikakiku, karena tertutup oleh senyuman yang menghiasi wajahku. Senyum
kesenangan, senyum kesederhanaan, dan senyum pantang menyerah terhadap tantangan zaman.
Dua ribu rupiah adalah
upah perhari. Bayangkan saja. Betapa sedikitnya uang dua ribu itu pada zaman
modern sekarang. Tapi.. walaupun terlihat sedikit, tidak bagiku. Itu adalah
upah yang berharga, setidaknya cukup untuk membeli dua bungkus roti dan untuk
ditabung. Jika aku pikir-pikir lagi, tabunganku selama satu tahun bekerja
sebagai penjual es lilin ditambah dengan bonus-bonus yang diberikan oleh
majikanku, kurasa hampir cukup untuk membeli kursi roda, walaupun bekas tapi
aku yakin ayah pasti senang.
Tentang uang
tabunganku, ayah dan Santi tidak mengetahuinya, aku menyimpannya terkubur di
pojokan rumah dengan wadah kaleng sebagai pelindungnya. Tanpa berpikir lama,
aku datangi si penjual sepeda dan kursi roda bekas.
“ Pak... kursi roda ini harganya
berapa? “
“ Tiga ratus ribu... dek. “
“Yang
benar pak, tiga ratus ribu ? Mmmm... Pak saya pesan kursi roda ini, tapi tunggu
sebentar ya, Pak... saya mau mengambil uang dulu dirumah.”
“ Ya, ya.. cepat ya dek, nanti
keduluan orang lain.... “
“ Ya, Pak..... “ jawabku.
Dengan rasa
senang yang tiada tertolong, aku berlari sekencang-kencangnya pulang ke rumah
untuk mengambil uang. Aku tak memperdulikan orang yang melihatku berpikir apa,
senyum yang lebar dari bibirku cukup untuk menjawab pertanyaannya, bahwa aku
sedang bahagia, bahagia sekali, salah satu cita-citaku akan terwujud dihari ini
juga. Perlahan aku mengeduk tanah dan mengambil kaleng tanpa sepengetahuan ayah
dan Santi, lalu aku berlari lagi menuju toko kursi roda bekas tadi.
“Pak
ini uangnya,” ucapku dengan nafas terengah-engah, menyodorkan kaleng tabunganku.
“
Ini uangnya berapa ? “ tanya si penjual kursi roda. Bingung dengan kaleng yang
tiba- tiba disodorkan kepadanya.
“ Biar saya hitung dulu, pak. ”
jawabku.
Kubuka tutup
kaleng itu, dan aku mulai menghitung uang yang ada didalamnya, setiap sepuluh
ribu, aku melipatnya jadi satu. Sebetulnya aku jarang- jarang menghitung uang
sebanyak ini. Aku sempat kaget saat menghitung uang tabunganku melibihi tiga
ratus ribu. Berpikir sejenak... mungkin aku akan membelikan baju untuk Santi,
pasti dia sangat senang. Tiga ratus sepuluh ribu rupiah telah kuberikan kepada
pemilik toko sekalian ongkos antar barang. Tapi sebelum
diantar aku membeli baju terlebih dahulu untuk Santi. Karena aku tahu dia suka
warna hijau, maka aku membelikan baju muslim beserta kerudung yang berwarna
hijau. Aku tak sabar melihat reaksi mereka ketika mendapat hadiah dariku. Apa
mereka akan terkejut, senang, gembira, atau mungkin terharu. Yang jelas, pasti
ayah akan bertanya kepadaku dengan berjuta-juta pertanyaan yang akan
membingungkanku. Tak apalah, akan ku jawab seadanya.
Setibanya didepan rumah, aku membuka
pintu dan terlihat ayah sedang asyik membuat keranjang bersama Santi.
“ Assalamu’ alaikum, aku pulang.....”
“ Wa’alaikum salam.“ jawab mereka serempak
dengan menatapku yang sedang tersenyum.
“ Pak... bisa dibawa kedalam!”,
Bapak itu mengangkat kursi roda ke dalam rumah, “
Terima kasih pak, “
“ Ya.... sama-sama, saya pamit dulu
mbak ,”
Bapak itu segera
keluar dari rumah. Sementara ayah dan Santi masih terbengong tak percaya dengan
hadiah yang kuberikan padanya. Aku kira ayah akan bertanya-tanya padaku, tapi
beliau hanya menangis...... menangis tanpa suara. Aku tak mengharapkan seperti
ini, aku ingin ayah tersenyum, bukannya menangis.
“Santi,
ini ada hadiah untuk kamu juga, kamu bisa mencobanya, cepatlah dicoba! Kakak
ingin melihat, bajunya pas atau tidak.” kataku, dengan sedikit memberikan
senyuman.
Bukannya
menerima, Santi tiba-tiba memelukku dengan air mata yang mengalir dari pelupuk
air matanya. Kenapa ini terjadi, aku tak ingin suasana menjadi haru, aku ingin
kebahagiaan datang dari raut wajah mereka.
“
Ayah... ini semua hasil tabungan Tantri. Upah menjual es lilin dari satu tahun
yang lalu, ayah tak usah berpikir
macam-macam. Tantri ingin memberikan hadiah ini untuk ayah juga kepada Santi
agar kalian bahagia. Itu cita-cita Tantri ayah. Tantri tak ingin kalian sedih, tidak
seperti ini ,” isakku yang sedikit merengek.
“ Tangisan ayah ini bukan kesedihan, tapi
kebanggaan ayah memiliki anak sepertimu.”
jelas ayah, akupun sedikit
tersenyum.
“ Ayah mau mencobanya ? “
“ Tentu saja, sudah dibeli juga harus
dicoba, bukan begitu Santi.... ? “
Kemudian ayah mencoba
menaiki kursi roda dengan sedikit bantuanku, sementara Santi tengah asik
mencoba baju barunya di depan cermin kacil. Bahagia rasanya melihat mereka
tertawa, dan bergembira. “Ibu, ..... bagaimana pendapatmu tentang semua ini,
apakah ini berlebihan? Tidakkan? Aku ingin kau bangga kepadaku dan Santi, sama
seperti ayah yang bangga kepada kami berdua.”ucap suara batinku.
Karena uang tabunganku masih tersisa
banyak, aku mengajak ayah untuk memeriksakan kondisi beliau ke Puskesmas. Saat
tiba disana, aku langsung mendapat giliran pertama, karena pada saat ini pasien
yang datang sepi. Kulihat Dokter sedang memeriksa ayah. Aku terbayang, kelihatannya
menjadi Dokter mengasikkan, disamping merupakan pekerjaan yang mulia, dapat
merawat orang sakit dan menyembuhkannnya. “Andai kelak aku jadi Dokter.“ ucap suara
batinku lagi. Tapi kurasa tak mungkin, sudah dua tahun ini aku keluar dari
sekolahan. Mana mungkin orang yang tidak sekolah menjadi Dokter.
Setelah ayah
selesai diperiksa, aku dan Santi disuruh keluar sejenak. Mungkin itu urusan
orang dewasa hingga anak kecil seperti kami tak boleh mendengarkannya. Huuh..
AUTHOR POV
“ Pak, apakah bapak sering mengalami
batuk, atau sesak nafas ? “ tanya Dokter.
“ Iya, Dok. Tapi batuknya mengeluarkan darah, itu kenapa ya Dok ? “
“Bapak dulu suka merokok dan minum-minuman
keras?” lanjut Dokter tanpa menjawab
pertanyaan dari ayah.
“ Kalau minum-minum saya belum
pernah, tapi kalau merokok dulu saya setiap hari merokok, memangnya kenapa Dok ?
“
Setelah saya periksa, dan lewat jawaban Bapak, saya menyimpulkan bahwa bapak
terserang penyakit kanker paru-paru stadium IV, tapi hasil ini belum akurat. Saya
hanya menyarankan bapak untuk sering menjalankan terapi dan periksa ke rumah
sakit di Kota. Peralatan medis disini kurang memadai. ”
“ Apa tidak ada cara lain Dok ? kami
ini warga yang tidak mampu Dok ?”
“Baiklah,
saya hanya bisa memberikan obat untuk mengurangi rasa sakit saja. Dan
selanjutnya, berdoa saja.. semoga kesembuhan menyertai Bapak .”
“ Terima kasih, Dok. “
“ Sama-sama.... “
TANTRI POV
“
Baiklah, saya hanya bisa memberikan obat untuk mengurangi rasa sakit saja. Dan
selanjutnya, berdoa saja.. semoga kesembuhan menyertai Bapak.”
“ Terima kasih, Dok.”
“
Sama- sama..”
Hanya kalimat terakhir saja yang aku
dengar. Sesaat setelah aku mencoba untuk menguping percakapan ayah dan Dokter,
dibalik pintu ruang pemeriksaan......
Sesaat kemudian,
pintu terbuka, aku melihat ayah dengan wajah pucat. Aku khawatir terjadi
sesuatu terhadap ayah. Ya, pasti telah terjadi sesuatu yang aku tidak tahu.
Sangat kentara dari percakapan tadi.
“ Yah... ayah kenapa, bagaiman
hasilnya ?” tanyaku penasaran
“ Hasilnya baik-baik saja, ayah
tidak apa-apa. “
“ Syukurlah, aku kira ada sesuatu
yang menimpa ayah” ucap Santi.
Aku masih tak percaya dengan
perkataan ayah. Tapi aku mencoba untuk menahan rasa penasaranku. Semoga saja.
Ayah benar dengan perkataannya.
***
Satu bulan berlalu, dan pada hari
ini aku meminta untuk libur menjajakan es lilin. Karena, aku curiga terhadap
ayah, beliau sakit-sakitan, tak bisa bangun dari tempat tidurnya, Batuknya
menjadi-jadi bahkan sering mengeluarkan darah, dan tubuh beliau semakin kurus.
Beliau juga mengeluhkan dadanya yang tiba- tiba merasa sesak. Akhir-akhir ini pula,
beliau tidak nafsu makan.
Saat mencuci
baju, aku dikagetkan dengan panggilan ayah. Beliau seperti orang yang hampir
sekarat, karena aku tak tau lagi harus berbuat apa, jadi aku putuskan untuk
memanggil Pak Haji. Dan, saat kukembali ayah telah meninggal dunia.
“
Ayah...ayah...bangun ayah. Apa ayah tak kasihan dengan Santi. Dia masih kecil,
ayah bangun !’’ rengekku. Masih tak percaya dengan perkataan Pak Haji yang
menyatakan ayah telah meninggal.
“
Pak, ayah tidak meninggal bukan. Tantri tahu, tadi ayah sedang memanggil-
manggil Tantri. Apa ayah masih tidur? Bangunkan ayah, Pak Haji. Bangunkan ayah
Tantri...” Aku masih tetap bersikeras untuk tak mempercayainya.
“ Sudah mbak, tak baik seperti itu,
biarkan beliau tenang sekarang, saya pamit akan mengumumkan berita duka ini pada warga .”
***
Sejak dua hari kematian ayah, aku
dan Santi masih dalam suasana duka. Setiap hari Santi menangis dipelukanku, aku
tetap tak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku sendiripun juga merasa
sama dengan Santi sekarang ini. Masih tak menyangka. Aku juga masih anak- anak
yang tidak mampu untuk menanggung semua ini. “Apakah aku bisa menghidupi Santi
seorang diri....?”. Kata- kata itu mengalir begitu saja di otakku. Benar juga,
bagaimana ini. Apakah sesulit ini Tuhan memberikan cobaan kepada anak yang
masih berusia 14 tahun ini. Apakah ini adil, apakah ini hanya mimpi buruk
sesaat saja?
Aku mencoba, menenangkan diri
sendiri. Jika bukan aku yang tegar, siapa lagi yang akan melakukannya. Santi?
Sangat jelas tidak. Dia masih sangat kecil untuk bersikap tegar. Haah,, betapa
bodohnya aku. Kenapa aku berfikiran seperti ini. Seharusnya aku mencoba
menegarkan Santi. Mengucapkan bahwa semuanya akan baik- baik saja. Bukannya
menjadi cengeng, bukannya menjadi lemah tak berdaya, juga bukannya menjadi
kakak yang buruk bagi adiknya. Aku harus tegar.
***
Karena disaat
malam Santi selalu mengigau tentang ayah, maka kuputuskan untuk mengajak Santi
menjenguk makam ayah. Jauh memang, tapi pemakaman didaerahku satu-satunya, ya hanyalah
ditempat itu. Apa boleh buat, kami harus melewati jalan raya, melalui jembatan
gantung, dan menyeberangi rel kereta api. Sesampainya dipemakaman ayah, Santi
terlihat larut dalam kesedihannya. Sampai-sampai saat pulang karena dia terlalu
asyik dengan tangisannya, ia terserempet mobil, untung saja yang menyerempet
itu orang baik.
“ Adik tidak apa-apa ..... ?”
“
Hanya lecet-lecet, Pak .” Jawab Santi yang mencoba untuk menahan isakknya,
dengan menundukkan kepala.
“ Dimana orang tua kalian, saya
ingin bertemu untuk mempertanggung jawabkannya.”
“
Ibu dan Ayah sudah meninggal..”, jawab Santi dengan merengek keras. Rupannya ia
sudah tak bisa menahan tangisannya, saat mendengar ayah dan ibu yang telah
meninggal disebut- sebut.
“Sudahlah, San..., tak usah seperti
itu, apa kamu tidak malu dilihat orang-orang, diamlah
! “ ucapku menegarkan Santi.
Bapak yang
menyerempet itu terlihat berpikir sejenak, dan mulai mengucapkan kata-kata yang
sangat mengagetkanku. Ternyata beliau mempunyai pondok pesantren di daerah
Bandung, maka dari itu beliau mempersilahkan aku dan Santi untuk tinggal di
pondok, sekalian mengurus segala kegiatan pondokan, dan juga tentunya untuk belajar
disana. Hingga ke jenjang yang lebih tinggi.
***
Suasana dipondok sangat tentram. Dan
Santi? Dia terlihat sangat betah tinggal disini. Perlahan-lahan dia sudah tak
memikirkan kepergian ayah. Mungkin itu pertanda bagus, mungkin juga tidak... Entahlah,
semoga saja ia tetap mengingat ayah dan ibunya walaupun telah meninggal dunia.
Tapi juga tak larut dalam kesedihan tentunya. Hanya sekedar mengingat. Hanya
itu saja, cukup untuk mengenang ayah dan ibunya.
Akhir- akhir
ini, temannya menjadi banyak, mungkin karena kecerdasannya yang baru terlihat
itu yang mengikat anak- anak santri putri untuk berteman dengannya. Dia-pun
juga terlihat gembira. Tentunya, aku ingin selalu melihatnya gembira. Selamanya.
Mengingat... aku tak bisa memberikan kasih sayang yang lebih untuknya.
Sedangkan aku
sendiri? Aku juga akan mengejar cita-citaku. Cita- cita yang belum lama ini aku
idam- idamkan. Cita- cita, yang bagai pelangi indah pada setiap warnanya. Yang
sempat dulu kurasa, cita- cita itu akan selalu dibayang- bayangi oleh awan.
Tertutup awan. Awan yang tebal. Hingga aku tak sanggup lagi untuk meniup awan
itu. Hanya, mencoba untuk mengenyahkannya dari pandanganku, juga yang menutupi
pelangiku.
Tapi kini aku salah.
Salah besar. Awan tebal itu perlahan telah menghilang, menghilang dengan
sendirinya. Mungiin...... cukup menunggu waktu saja, untuk menghilangkannya. Hingga, pelangi itu semakin
lama semakin terlihat. Pelangi yang menjadi cita- citaku. Seorang Dokter......
--------------------- Tamat -------------------



Komentar
Posting Komentar